Saturday, 9 February 2019

Empat Puluh


          Kini senja risau karena dirinya tergantikan dengan malam, bintang-bintang sudah muncul bersama bulan separuh yang sedikit tertutup awan. Angin tiada henti mengembuskan napasnya padaku.

            “Tiga puluh sembilan. Satu hari lagi.”
            Aku bergumam sendirian sambil mengayunkan kakiku yang berada satu senti dari tanah.
            “Aku tak mau bertemu fajar tetapi mau tidak mau fajar tetap akan menjemputku.”
            Aku menatap Koci, kucing hitamku yang setia duduk di dekatku sambil menjilati tubuhnya yang kini dipenuhi kutu. Suara ayunan yang aku duduki sudah terdengar reot, talinya pun hampir putus dengan batang pohon mangga yang tidak pernah berbuah ini. Aku juga menatap rumput-rumput hijau sudah tumbuh liar di tempat ini tanpa kendali.
            “Koci, apa yang akan kamu lakukan esok hari?” aku mengelus bulu hitam halus Koci.
            Koci menatapku seolah mengerti aku sedang bertanya padanya. Dia mengeluarkan suara khasnya dan tatapan hijau dari mata besar itu.
            “Ah, aku tahu! Kalau tidak makan ya kawin, kerjaanmu ‘kan begitu.”
            Seolah Koci mengerti apa yang aku katakan, dia mencakar kaki mungilku sembari mengeong dengan garang.
            “Aku bergurau, tapi fakta. Ya, mungkin kau mengerjakan tugas dari ibu, berburu tikus dapur.” Aku menatap Koci dengan tatapan tulus.
            Meskipun orang-orang sempat mencemoohku karena aku memilih Koci untuk dipelihara, aku tetap bangga padanya. Dia kucing yang akan menyerang siapa saja yang berniat melukaiku karena aku dianggap bodoh di sekolah, hampir setiap hari dia juga membawakanku hadiah, seekor tikus dapur, ya... dia memang kucing yang baik hati. Aku masih ingat ketika Oom Maga mengatakan aku gadis bodoh dan mengejek Koci karena dia terlihat rapuh dan kurus ketika aku mengadopsinya, apalagi bulunya yang hitam legam seperti kucing milik penyihir. Oom Maga beberapa kali menyuruhku menukar Koci dengan kucing lain tetapi pilihanku sudah bulat, Koci pilihanku.
            Angin berembus lembut seolah berbisik padaku, membuat rambutku berkibar laiknya bendera. Angin lembut itu datang bersama senja yang buru-buru datang. Dia membawa kawannya, Si Jingga yang kini memenuhi langit biru kesukaanku.
            “Satu hari lagi. Tinggal tunggu gelap dan bulan menyapaku, esok hari sudah datang. Kau bisa pulang, Koci. Tikus dapur lebih enak daripada tikus tanah.”
            Kini Koci berbaring di punggung kakiku seolah tidak mau aku pergi. Aku menatapnya dengan haru, sudah tiga tahun aku merawatnya, dulu dia amat kurus dan kotor, kini dia gemuk dan besar meskipun beberapa kutu hinggap di tubuhnya, aku sempat marah karena Koci terlihat kotor karena kutu.
            “Tidurlah, Koci. Kejutan untukmu esok hari.”
            Kini senja risau karena dirinya tergantikan dengan malam, bintang-bintang sudah muncul bersama bulan separuh yang sedikit tertutup awan. Angin tiada henti mengembuskan napasnya padaku. Berbisik kalau besok adalah hari bahagiaku, aku tidak sepenuhnya setuju pada angin.
            Mataku kian berat, merengek minta istirahat. Selamat malam untuk malam.
            Mataku terbuka karena sinar fajar menyoroti wajahku, Koci masih berbaring di kakiku.
            Ada yang baru aku lihat hari ini, seseorang dengan pakaian hitam yang aku sudah tebak dia akan datang pada hari ke-40. Siap tidak siap aku harus menuruti perintahnya. Aku segera beranjak dari dudukku dan membuat Koci terperanjat, dia mengeong lembut ke arahku yang berjalan menuju sosok itu.
            “Kejutan! Hari ke-40, Koci! Pulanglah, ibu akan mencarimu, kasihan setiap hari dia mencarimu ke sini dan memaksamu pulang. Tidak apa-apa, aku baik-baik saja bersama dia, selamat makan tikus dapur!”
            Aku tersenyum pada Koci yang kini hanya menatapku tanpa bergerak, matanya yang berbicara atas kehilanganku. Tidak jauh dari sana, aku melihat wanita yang aku kenal. Ibuku. Dia berjalan menuju arah Koci dnegan panik.
            “Kociku, sayang. Dera akan baik-baik saja, mari pulang. Dia tidak akan kembali, Koci. Alamnya bukan bersama kita.”
            Aku menatap ibu yang berbicara kepada Koci sembari menyebut-nyebut namaku, Dera.
            “Dera. Bahagiakah di sana? Tenang, di sana tidak ada yang jahat padamu,”ujar ibu.
            “Bahagia, melihat Ibu bahagia juga aku bahagia. Selamat tinggal.” Aku menjawab sambil berjalan mengikuti sosok berjubah hitam entah ke mana.
            Ibu menitikkan air matanya di sebuah gundukan tanah dan nisan bertuliskan ‘Dera’. Di atasnya, sebuah tali tambang masih tergantung di sana, empat puluh hari yang lalu, aku menjerat leherku sendiri tepat setelah teman-temanku melempariku dengan kertas karena tidak bisa menjawab soal mateamtika di papan tulis.



#Sabtulis
Share:

0 komentar:

Post a Comment