Friday, 23 April 2021

Siapa Lagi yang Menganggap Saya Anugerah?

 Siapa lagi yang menganggap saya anugerah

Jika bukan saya 

Siapa lagi yang menganggap saya berharga

Jika bukan saya 


Kiranya tak bisa berharap mereka menganggap saya berharga

Kiranya semua hanyalah keinginan yang perlahan sirna

Ketika saya tahu bahwa saya hanya berharga untuk diri saya sendiri

Siapa lagi yang bisa diandalkan

Kecuali diri saya


Saya pulang

Saya pergi

Saya kembali

Tanpa permisi

Tanpa sapaan 

Hanya sebuah pelukan

Dari diri sendiri



Share:

Tuesday, 13 April 2021

Jika Saya Hendak Menyerah

 

Mengutarakan rasa kepada bagaskara
Saya mengira mana yang akan dia katakan 
Terenyuh pada untaian kalimat dari mulut saya atau tertawa karena kebodohan saya?

Sejak kemarin saya memilih menyerah pada diri saya sendiri
Kiranya Si Jahat berbisik dengan sangat nyaring
Bahwa semua yang sudah saya susun akan berakhir laiknya permainan blok uno yang gagal
Ah, saya kira dia tidak sepenuhnya salah 

Kemudian saya melirik ke arah kemilau biru
Saya tanya keberpihakannya kepada mentari itu atau tidak
Dia bilang jika dia tidak memilih
Langit biru akan menaungi dengan seimbang seluruh aspek kehidupan
Ah, kiranya dia tidak mau berurusan dengan saya

Kau lihat ranting tipis di sana tertawa dengan cara berayun-ayun 
Apakah dia mencoba menertawai segala tanda tanya di benak saya
Mulailah saya bertanya pada ranting tua kurus itu
Katanya dia memang benar menertawakan saya

Apa maksud si bodoh tua tak bisa bergerak itu 
Katanya saya yang bodoh 
Mengapa saya tak percaya pada diri sendiri
Sedangkan dia selalu percaya bahwa mentari akan selalu terbit memberikan nutrisi padanya 
Ya, benar juga Si Tua itu

Saya selalu bertanya tentang semua yang saya langkahkan 
Apakah terus bergerak maju dengan batuan kerikil yang tajam
Atau berhenti tanpa tau rintangannya 
Saya gampang menyerah memang

Saya juga selalu membuka telinga 
Mengikuti segala ucapan manusia bertatapan menghina di sana
Saya tidak percaya pada diri saya sendiri
Bukankah benar saya adalah Si Bodoh


Share:

Saturday, 10 April 2021

Sambatan Cape 2021

 


Terlalu banyak "katanya" dalam hidup ini ya. Katanya bakalan ada waktu bahagia, katanya ada kejutan yang bikin nangis bahagia, katanya ada waktu doa terkabul, katanya aku menemukan mimpi yang bakal terwujud, katanya aku bakalan seseorang yang bakalan kasih dukungan ke aku kapan aja selain dari sisi keluarga. Bentar, emang katanya siapa? Katanya emang kapan? Ga ada waktu pasti.

Aku udah bilang kalo ini notes sambatan, sambatan curhatan dari perempuan yang udah hampir hopeless. Maybe you'll say kurang iman or tambahin ngaji, tapi sombongnya adalah aku ngelakuin itu tiap hari. Tapi, kenapa? 

Di otakku cuma kenapa? Kenapa dan kapan? Kenapa aku jauh dari yang "katanya" itu? Memangnya aku ada di urutan terakhir dalam segala takdir ya? Padahal namaku kan awalan A. Apa karna aku lahir di bulan Oktiber yang notabene adalah 3 bulan terakhir dalam kalender. Bisa... 

Sorry to write this, but i'm literally hopeless about everything. Aku cape sama kuliah yang aku lakuin yang kadang bikin aku naik darah dan panik doang, aku cape sama hobi aku yang gak menghasilkan dan monoton, aku cape sama impian aku buat jadi penulis yang stuck sampe sini aja even aku ikut lomba tapi ga pernah menang dan ditolak beberapa kali sama penerbit. Am I so bad at that? I think yes. Memangnya aku siapa sih? Cuma anak cewe yang suka ngeluh kan. 

Aku kadang suka mikir kalo pandemi malah bikin aku tambah stres, gimana ya. Aku ga bisa curhat sama siapa-siapa, gak sepenuhnya karena 1/4 dari keluhan aku ceritain ke keluarga. Inget, cuma 1/4 dan sisanya aku pendem sendiri karna takut malah bikin mereka marah atau sedih (?) Ya kali idup mereka ga seputar aku doang kan? Aku ga aku, jadi pemeran utama di otakku.

Aku ga bisa cerita dengan leluasa sama temen, ga bisa natap mata mereka langsung. Rasanya hambar aja cerita lewat virtual, rasanya kaya' ada 'ga percaya' di benak aku sendiri. Iya, aku emang suudzonan aja. Aku buruk dan aku akan perbaiki itu. Doakan ya! 

Kadang aku kesepian. Kesepian kenapa emang? Ofc about love. Seeing my friends who's have bf or gf makes me envy. Why why why apakah aku sejelek itu? Iya emang jelek sih. Emang kapan sih aku dibilang cantik sama orang? Ga pernah.

Oke beda topik, ini beneran dan aku ga hina aku diri aku sendiri (kocak padahal iya). Aku ga pernah dibilang cantik sama orang ya kecuali ortu lah. Kenapa? Aku item anjir, aku jelek, aku kurus banget dulu, rambut aku keriting, idung aku pesek, aku pendiem, dan aku kaya idiot. Beberapa kali dibilang item buat aku down padahal mah harusnya b aja ga sih wkwk what's wrong with item even i'm pretty ye kan?  

Masalah item dan kurus ini kelar timbullah jerawat jahanam. Jahanam aku diejek, tiba-tiba yang ketemu aku cuma notis jerawat, ga suka banget sial aku mau nangis. Bahkan dinotis sama keluarga sendiri tuh rasanya... Ya aku sering banget ketemu keluarga terus bilang, "Ih jerawatnya nu gede pisan." Atau "Kamu cantik kalo ga jerawatan." Ya elah ngaku aja kalo aku cantik sih. 

Aku udah ga kurus, aku udah punya boobs. Tapi... Teteup aja ya wkwk dikatain gemuk. Ok it's okay up to you lah aku dah cape. 

Tapi...

Aku putihan, jerawat aku pudar juga. Aku emang awalnya berubah bukan buat aku tapi ya karna tuntutan sosial aja sih wkwkwk ya, ofc aku masih bocil belum ngerti self-love ya yaudah lah ya gass ae ngikutin omongan mereka. Bahkan sampe sekarang sih kayanya...

And beda topik lagi. Aku punya trust issues, sebenernya ini self-diagnose sib HAHAHA. Trus issues sama laki-laki, i don't trust anyone since... Kelas 12 maybe or 11?? I just think they just want my attention aja sih (lagu Charlie Puth banget nih), aku akuin aku emang pedulian dan sedikit flirty maybe, tapi itu adalah usaha buat friendly tauuuuu kenapa kalian salah paham? Kalo iya pun aku naksir kalian apakah aku terlalu jelek bambang??? 

Aku udah berenti ga suka sama siapa-siapa lagi sejak itu (baca lulus SMA). Seriously. Aku paling kagum aja sih sama beberapa temen atau kaka tingkat because they're achievement atau cool aja sih HAHA. Inget ya kagum doang ya sebatas ngefans kaya aku ke Zayn Malik. 

Jadi, saat ini aku gak naro hati ke siapa-siapa karna ya mau berharap apa? Siklusnya selalu sama dan ujungnya aku yang sakit. Kalo boleh sih aku maunya yang nyakitin (HHH JAYUS). Apalagi pandemi ye kan aku ga ketemu siapa-siapa, but I hope meet a man who really love me, treat me better, and I want a man yang bucin sama aku. Mimpi ga sih akuu wkwk secantik apa aku? Mirip kaleng rengginang mah iya! 

But, really. Aku mau laki-laki yang beneran bucin ke aku pasti aku bucinin balik. Aku bucin sama 1D aja segitunya, apalagisama pacar kan? HAHAHA DIEM JAMILAH! In first relationship aku mau beneran bucin aja sih ke dia, beneran jaga dia sedemian dia jaga aku. Gimana sih rasanya diperjuangkan? I just wanna feel itu someday tapi aku mau cari duit dulu, oke? Oke tunggu kelar pandemi ya moga ada kating ganteng idaman beralis tebal tiba-tiba tabrakan sama aku dan ajak aku makan nasi padang. Yeeeh, mimpi aja dulu. 

Udah sih, ini first post di 2021 yang nggak banget kan? Aku gatau sih gak ada tujuan kenapa post ini ke publik, mah aja wkwk sori and thank you everibadiiih❤️❤️

Share:

Sunday, 20 December 2020

Jangan Lupakan AIDS di Kala Pandemi

 

(Sumber: alodokter.com)

Pandemi COVID-19 tahun 2020 menjadi momok menakutkan baru bagi masyarakat seluruh dunia, khususnya di Indonesia. Terhitung dari mulai bulan Maret lalu, virus yang seakan menjadi anak baru di kalangan masyarakat ini sudah mampu menaklukan beberapa jiwa menjadi tumbang dan lainnya getir karena khawatir. Beberapa upaya pun dilakukan oleh masyarakan agar terhindar dari kejamnyaa COVID-19 yang sampai akhir tahun ini menjadi musuh bagi semua orang. Mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak adalah beberapa cara yang bisa dilakukan selama ini sebelum vaksin yang katanya akan mulai diluncurkan untuk membuat masyarakat menjadi sedikit tenang.

            Apakah hanya waspada kepada COVID-19 saja? Tentu saja tidak, beberapa penyakit yang mungkin menjadi terkubur karena ke-popularitasan COVID-19 juga harus masih kita waspadai keberadaannya. Salah satunya adalah AIDS, yang selama puluhan tahun menjadi penyakit yang ditakuti oleh seluruh masyarakat dunia karena sampai sekarang cara untuk menyembuhkannya masih belum diketahui.

            AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah infeksi yang ada pada tubuh manusia karena adanya virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan virus-virus lainnya terhadap kekebalan tubuh manusia. Seseorang yang terkena virus tersebut akan rentan terhadap infeksi dan akan membuat kekebalan tubuh melemah. HIV akan menginfeksi secara perlahan, merusak sel manusia secara bertahap, dan pada pada akhirnya akan terlihat akibat dari infeksi tersebut pada kisaran waktu sekitar 6 bulan atau bahkan 10 tahun.

            Dilansir dari Tempo oleh Fitra Moerat Ramadhan, jumlah penderita AIDS di Indonesia sampai bulan April 2020 mencapai 600 ribu jiwa yang tersebar di 463 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Penderita AIDS terbanyak berada di provinsi DKI Jakarta, diikuti dengan Jawa Tengah sebagai peringkat kedua penderita AIDS terbanyak di Indonesia.



            Sehubungan dengan total populasi penderita AIDS di Indonesia, penularan AIDS harus tetap kita waspadai disamping kekhawatiran kita terhadap penularan COVID-19. Jangan sampai karena pandemi ini kita menjadi lupa dan tidak tanggap terhadap penularan AIDS yang sebenarnya hampir serupa dengan COVID-19 atau bahkan bisa dikatakan lebih ganas dan menyeramkan. Seperti yang kita tahu sejak dulu, penularan AIDS dapat dilakukan dengan perantara cairan tubuh manusia, seperti darah, air mani, cairan vagina, dan air susu ibu. Kontaminasi tersebut didapatkan melalui transfusi darah, hubungan intim, serta hubungan antara ibu dan anak melalui ASI.

            Penularan AIDS sering dikaitkan dengan seks bebas yang menjadi perantara virus HIV yang paling banyak terjadi. Bahkan di kala pandemi pun, perilaku seks bebas masih marak dilakukan demi memenuhi hasrat batin di dalam diri manusia. Sayangnya, perilaku seks yang dilakukan tidak diiringi dengan pemahaman mengenai penularan berbagai penyakit seperti AIDS yang dapat menyerang siapa saja tanpa pandang korbannya. Penggunaan alat pengaman seks sering kali dilupakan oleh para pelaku seks bebas, padahal penggunaan pengaman ketika berhubungan seksual dapat mencegah atau mengurangi resiko penularan HIV/AIDS sampai  95%.

            Selain hubungan seksual, penularan AIDS juga dapat dilalui dengan jarum suntik yang biasanya didapatkan dari transfusi darah atau pemakaian obat-obatan. Penggunaan jarum suntik bekas ketika transfusi minim terjadi, tetapi ketika melakukan aktivitas dengan obat-obatan terlarang atau narkoba, penggunaan jarum suntik bekas sangat marak dilakukan.

            Pandemi membuat hampir semua masyarakat terpaksa berdiam diri di rumah sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Tentu saja hal itu membuat masyarakat jenuh karena terbiasa beraktivitas di luar rumah. Oleh karena itu, beberapa kalangan memilih menggunakan narkoba seperti seperti heroin, kokain, atau obat penenang dengan harapan mendapatkan ketenangan dari isolasi yang dilakukan selama beberapa bulan ini. Kegiatan ‘pesta’ narkoba biasa dilakukan bersama orang terdekat agar tetap bisa merasakan kebersamaan dan keramaian seperti di luar rumah sebelum pandemi. Namun, tidak jarang kebersamaan yang mereka lakukan justru menimbulkan beberapa masalah selain bahaya dari narkoba itu sendiri, yaitu penggunaan jarum suntik bersama yang terkontaminasi dari tubuh yang satu ke tubuh yang lain. Jarum suntik yang terkontaminasi bukan saja menyalurkan narkoba seperti heroin atau kokain, tetapi juga HIV/AIDS yang ikut masuk ke dalam tubuh korban dan akan menginfeksi sel secara bertahap.

            Isolasi mandiri yang terpaksa kita jalankan selama hampir setahun ini memang sangat meresahkan dan membuat siapa pun jenuh dan merasa pusing karena tidak dapat beraktivitas dengan maksimal. Namun, jangan sampai aktivitas-aktivitas lain yang kita lakukan demi menghilangkan rasa jenuh tersbeut justru mengundang penyakit lain yang lebih mematikan dan menyeramkan dari COVID-19, yaitu AIDS. Meskipun COVID-19 menjadi bintang yang paling bersinar tahun ini, kita pun seharusnya tidak melupakan bahwa AIDS pun akan tetap menjadi karakter yang wajib kita waspadai karena pengobatan bagi AIDS masih belum ditemukan sampai saat ini setelah puluhan tahun lamanya.

            Pencegahan AIDS perlu kita ingat selama masih bisa hidup di dunia ini, dari sekolah dahulu kita selalu diberikan upaya-upaya pencegahan HIV/AIDS yang dapat kita lakukan dengan niat dasar dalam diri sendiri. Salah satu pencegahan yang paling utama adalah dengan tidak melakukan seks bebas, pastikan selalu menggunakan pengaman ketika hendak berhubungan intim dengan orang yang tidak kita ketahui asal-usulnya. Selain itu, tidak menggunakan jarum suntik bersama atau bekas yang biasa dilakukan ketika menggunakan narkoba. Hubungan antara ibu dan anak juga perlu diperhatikan, jika seorang ibu diketahui memiliki riwayat AIDS, maka dengan sangat berat hati tidak melakukan pemberian ASI kepada bayi karena rentan tertular hal yang sama dengan sang ibu.

            AIDS memanglah penyakit yang menakutkan, tetapi satu hal yang perlu diingat adalah bahwa kita pun tidak berhak untuk menjauhi dan mendiskriminasi penderita AIDS. Penularan AIDS tidak semudah yang dibayangkan, berpelukan atau bersalaman tidak serta-merta membuat HIV/AIDS menular ke tubuh yang bukan penderita. Penderita HIV/AIDS atau ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) harus kita dukung agar kekebalan tubunya tidak membuat mereka kalah. Penderita AIDS maupun bukan menduduki tingkat yang sama, yaitu sama-sama waspada terhadap AIDS dan beriringan bersama melawan HIV/AIDS yang masih ada di sekitar kita sampai saat ini.

 

 

 

 

Sumber Referensi:

Herbawani, Chahya K. & Dadan Erwandi. 2019. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Pencegahan Penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV) oleh Ibu Rumah Tangga di Nganjuk Jawa Timur. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 10(2), 89-99.

Prayuda, Muhammad R. 2015. Pencegahan dan Tatalaksana HIV/AIDS. Jurnal Agromed Unila, 2(3), 232-236.

Ramadhan, Fitra Moerat. 2020. “Jumlah Orang dengan HIV AIDS Diperkirakan Lebih dari 600 ribu” dikutip dari https://grafis.tempo.co/read/2052/jumlah-orang-dengan-hiv-aids-diperkirakan-lebih-dari-600-ribu (diakses 21 Desember 2020).

 

           

Share:

Sunday, 6 December 2020

Merangkul Korban Kekerasan Berbasis Gender

 


Kekerasan Berbasis Gender atau sering disingkat sebagai KBG adalah tindakan kekerasan yang ditujukan terhadap perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal seksual, fisik, sosial-ekonomi, dan psikologis. KBG dapat terjadi secara langsung atau bahkan sering terjadi secara online melalui media sosial dengan menulsikan kata-kata yang kasar dan menjatuhkan korban.

            Kasus mengenai KBG selalu menunjukkan grafik kasus yang terus meningkat, hal ini disebabkan karena lemahnya hukum mengenai tuntutan yang seharusnya ditujukan kepada para pelaku KBG, selain itu beberapa lingkup masyarakat juga masih menormalisasi dan menganggap bahwa KBG adalah hal yang sepele dan tidak akan menimbulkan akibat kepada korban. Faktanya, korban KBG akan terus mengalami trauma dan ketakutan dalam dirinya selama hidupnya. Korban akan terus merasa sendiri dan tidak berharga setelah mengalami KBG, hal tersebut tentunya bukan lagi masalah yang sepele dan terpinggirkan.

            Menyangkut soal KBG, kiranya hanya bisa dilakukan dengan kampanye yang luas kepada khalayak mengenai KBG, membuat konten-konten tentang dampak KBG, dan mengajak masyarakat beserta aparat tinggi mulai saatnya mengusut kasus KBG secara bijak agar pelaku tidak seenaknya pergi dan merasa tidak ada beban yang ditanggungnya. Jika hukum mengenai KBG tidak tegas, maka akan ada ribuan kasus KBG lain yang akan terjadi. Artinya, akan semakin banyak korban yang akan terperangkap dalam kenangan buruk yang berdampak pada psikisnya.

Jika hukum Negara tidak bisa menjamin dan mengadili kasus KBG dengan sepatutnya, maka masyarakat yang harus mulai bergerak dan merangkul satu per satu korban KBG. Kegiatan kecil itu mungkin tidak bisa menghapus luka batin pada korban secara seutuhnya, tetapi diharapkan untuk korban sendiri akan merasa aman dan memiliki banyak teman yang merangkulnya berjalan kembali dengan tegak. Sudah selayakanya kita membuka mata tentang KBG yang semakin marak terjadi, membuka telinga dan mulai mendengarkan korban tanpa menghakimi, dan menjadi teman dekat yang saling menguatkan secara batin.

Dimulai dari hal kecil, jika melihat KBG secara langsung, maka segera bantu untuk melerai, pisahkan korban dari pelaku dan mulai mengamankan korban. Jika takut memperkeruh suasana, maka bisa melaporkan kepada lembaga hukum yang dapat mengatasi masalah seperti ini. Jika kalian adalah korban KBG, maka segera mencari tempat yang aman, menjadi berani, dan berceritalah kepada orang yang terpercaya. Ingat, kalian tidak sendiri, kami akan siap untuk merangkul dan jalan beriringan bersama melawan kekerasan.  

Perlu perlawanan tidak langsung juga untuk mulai membuka mata masyarakat luas tentang KBG, menyebarkan tulisan atau foto yang membuat masyarakat sadar bahwa KBG sudah seharusnya menghilang dan mulai hidup berdamai tanpa adanya perbedaan yang didasari oleh gender. Dukungan yang kuat juga akan ditujukan kepada para korban dengan memberikan semangat dan menyadarkan bahwa masih ada yang peduli dengan keadaan mereka, bahwa mereka tidak sendiri, ada ratusan jiwa lainnya yang akan menjadi pagar pembelaan bagi mereka.


#CerdasBerkarakter #BlogBerkarakter #AksiNyataKita #LawanKekerasanBerbasisGender #BantuKorbanKekerasan

Share:

Friday, 11 September 2020

[Review Buku] Drupadi: perempuan poliandris

                          (sumber: goodreads.com)


Judul: Drupadi: perempuan poliandris

Penulis: Seno Gumira Ajidarma

Tahun: 2017

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-06-0456-5


Sinopsis:

"Apalah artinya Pandawa tanpa Drupadi."

Dewi Drupadi tidak menyukai suratan. Kehidupan manusia tidak ada artinya tanpa perjuangan. Jika segalanya telah menjadi suratan, apakah yang masih menarik dalam hidup yang berkepanjangan? Apakah usaha manusia tidak ada artinya? Apakah semuanya memang sudah ditentukan oleh dewa-dewa? Seperti ia yang menjadi istri dari lima ksatria Pandawa. 

"Maka hidup di dunia bukan hanya soal kita menjadi baik atau menjadi buruk, tapi soal bagaimana kita bersikap kepada kebaikan dan keburukan itu."



Ulasan Pribadi: 

        Berawal dari sebuah platform yang saling berbagi buku-buku bacaan, saya tertarik pada salah satu novel karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Drupadi. Bukan tanpa alasan saya langsung jatuh hati pada novel ini, saya memilihnya menjadi sasaran bacaan saya karena saya sangat tertarik pada cerita pewayangan, baik dalam versi India atau Jawa. Salah satu tokoh yang saya kagumi dalam cerita pewayangan tentu saja pada Drupadi, sosok wanita yang ayu dan tegar yang menikahi kelima Pandawa yang dikenal selalu menjadi tokoh utama karena sifat heroik mereka. 

        Novel Drupadi sangat menekankan alur dan fokusnya kepada Sang Dewi yang lahir dari sekuntum bunga teratai yang merekah. Kecantikan yang tersohor di segala penjuru membuat Drupadi dikagumi dan membuat kaum siapa saja ingin meminangnya. Bermula dari sayembara yang dia buat sampai pada akhirnya pilihan Sang Dewi jatuh kepada salah satu ksatria Pandawa, Arjuna yang keahlian memanahnya tiada tanding. Drupadi mencintai Arjuna, begitu pula sebaliknya. 

        Konflik novel ini tidak hanya sebatas cinta antara Drupadi dan Arjuna, melainkan sebuah keputusan yang khusyu' di antara kelima Pandawa yang harus menikahi Drupadi. Keputusan ini pun didasari oleh ibunda Pandawa, Dewi Kunti, serta rasa ikatan saudara di antara kelima Pandawa. Drupadi yang anggun hanya pasrah dan mengikuti apa saja yang diminta, termasuk menikahi seluruh anggota Pandawa. Drupadi menjadi poliandris, menikahi Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. 

        Berbeda debgan novel pewayangan Mahabarata lain, keunikan dari Drupadi ialah menceritakan beberapa sifat buruk dan kesembronohan dari Pandawa. Sedangkan Drupadi menjadi sosok utama yang tangguh dan seakan menanggung tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan oleh kelima suaminya. Salah satu yang diceritakan adalah ketika Drupadi diseret oleh Dursasana, tubuhnya yang cantik harus dilakukan semana-mena oleh Dursasana dnegan tawaan dari para Kurawa, sanggulnya terlepas, pakaiannya terlucuti, wanita itu menjadi bahan tertawaan. Sedangkan kelima suaminya hanya bisa diam tidak bisa melakukan apa-apa kepada istri tercinta, bahkan Yudhistira yang kebijaksanaannya sangat terkenal, Bima yang kekuatannya tidak main-main, kehebatan Arjuna yang tidak bisa di-nomor duakan, Nakula-Sadewa sang bungsu yang hanya mampu menatap. Drupadi menanggung kesalahan suaminya seorang diri. 

        Novel ini benar-benar menambah wawasan saya tentang bagimana sikap dan ketangguhan Drupadi yang bahkan menurut saya melebihi Pandawa. Dia mampu berdiri sendiri, bahkan tanpa keberadaan Drupadi, Pandawa tidak bisa apa-apa. Drupadi merupakan seorang Dewi yang benar-benar agung dengan segala kecantikan dan kewibawaan yang sudah ada di dalam dirinya. Penulis benar-benar membuat kisah pewayangan Mahabarata yang berbeda, diambil dari sosok wanita bernama Drupadi. Keistimewaan yang benar-benar khas dari novel ini adalah pengambilan kisah bagaimana Drupadi adalah seorang wanita yang benar-benar berjuang bersama kelima suaminya, bahkan ketika pengasingan bagi mereka, termasuk di dalamnya adalah Dewi Kunti. 

        Bagi saya, novel Drupadi akan selalu membekas di kepala saya tentang bagaimana penulis menceritakan sosok wanita yang tidak dilahirkan itu. Tentang bagaimana kewibawaan dan kecerdasan dari Drupadi yang seakan membuat para pembaca menjadi kagum dan ingin menjadi sosoknya, semua ingin menyerupai Drupadi. Novel ini hampir tidak ada kecacatan di mata saya, sedikit kekurangannya adalah kisah yang kurang diceritakan dengan lengkap, sebenarnya itu bukanlah masalah besar karena sebenarnya kita masih bisa membaca kisah Mahabarata di buku yang lain seperti karya P. Lal. 

           Rate dari saya pribadi adalah 9/10.


Share:

Sunday, 2 February 2020

[Review Buku] Laut Bercerita


Judul: Laut Bercerita
Penulis: Leila S. Chudori
Tahun: 2017
ISBN: 978-602-424-694-5
Penerbit: Gramedia

Sinopsis:
Jakarta, Maret 1998

Di sebuah senja, di sebuah rumah susun di Jakarta, mahasiswa bernama Biru Laut disergap empat lelaki tak dikenal. Bersama kawan-kawannya, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dia dibawa ke sebuah tempat yang tak dikenal. Berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung, dan disetrum agar bersedia menjawab satu pertanyaan penting: siapakah yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu.

Jakarta, Juni 1998

Keluarga Arya Wibisono, seperti biasa, pada hari Minggu sore memasak bersama, menyediakan makanan kesukaan Biru Laut. Sang ayah akan meletakkan satu piring untuk dirinya, satu piring untuk sang ibu, satu piring untuk Biru Laut, dan satu piring untuk si bungsu Asmara Jati. Mereka duduk menanti dan menanti. Tapi Biru Laut tak kunjung muncul.

Jakarta, 2000

Asmara Jati, adik Biru Laut, beserta Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana mencoba mencari jejak mereka yang hilang serta merekam dan mempelajari testimoni mereka yang kembali. Anjani, kekasih Laut, para orangtua dan istri aktivis yang hilang menuntut kejelasan tentang anggota keluarga mereka. Sementara Biru Laut, dari dasar laut yang sunyi bercerita kepada kita, kepada dunia tentang apa yang terjadi pada dirinya dan kawan-kawannya.

Laut Bercerita, novel terbaru Leila S. Chudori, bertutur tentang kisah keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan kekosongan di dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berkhianat, sejumlah keluarga yang mencari kejelasan akan anaknya, dan tentang cinta yang tak akan luntur.
(Sumber: Goodreads) 

Ulasan Pribadi: 

Buku ini bercerita banyak kepada saya, memberi kesan yang campur-aduk. Terkadang saya tersenyum, tertawa, menangis, atau bergidik ngeri. Setiap detail yang diceritakan oleh penulis sungguh membuat imajinasi kita tumbuh, seakan berada pada situasi yang ada pada buku.

Saya tersenyum ketika membaca tentang kisah cinta Laut dan Anjani, membuat manis kisah dalam buku ini yang didominasi oleh kengerian dan kemarahan. Anjani adalah tokoh yang mampu menahan emosi pembaca karena kehadirannya, tokoh utama, Laut mendapat keberadaan tentang cinta.

Pembaca juga bisa tertawa geli ketika Laut, Alex, Sunu, dan Danil berada dalam satu percakapan. Empat sekawan yang kompak dan konyol mencairkan suasana tegang dalam beberapa adegan.

Siapa yang belum membaca novel ini? Terutama bagi yang memiliki kesensitifan terhadap apapun (gampang menangis). Novel ini siap membuatmu menangis, apalagi ketika di akhir cerita, saya jamin pembaca akan menangis atau setidaknya sesak karena hal yang diceritakan oleh penulis. Kesedihan ini datang ketika membaca kisah orang tua Laut, baik dari sudut pandang Laut atau Asmara.*

(*Novel ini memiliki 2 sudut pandang, dari tokoh utama Laut, dan Asmara Jati, adik Laut)

Kengerian yang mampu membuat pembaca bergidik selalu ada dalam tiap lembarnya. Membuat pembaca merasakan kesakitan yang dialami Laut dan kawan-kawan, atau bahkan kengerian yang dialami oleh Asmara karena kehilangan seorang kakak.

Intinya, novel ini mampu membuat saya takjub akan detail yang diceritakan. Banyak kosa kata baru yang menambah kamus pribadi saya. Saya juga belajar sejarah dari novel ini, betapa ngerinya zaman ketika saya belum dilahirkan. Keadaan panas dan kalut menambah merinding suasana.

Di hari libur, sempatkan baca ini yuk! Dijamin betah bacanya! Bagi kalian yang belum dapat buku fisiknya, bisa baca di iPusnas loh! Yuk! Yuk!

Rating: 8/10 (Rating Pribadi)
Share: