Tuesday, 13 April 2021
Saturday, 10 April 2021
Sambatan Cape 2021
Sunday, 20 December 2020
Jangan Lupakan AIDS di Kala Pandemi
(Sumber: alodokter.com)
Pandemi
COVID-19 tahun 2020 menjadi momok menakutkan baru bagi masyarakat seluruh
dunia, khususnya di Indonesia. Terhitung dari mulai bulan Maret lalu, virus
yang seakan menjadi anak baru di kalangan masyarakat ini sudah mampu menaklukan
beberapa jiwa menjadi tumbang dan lainnya getir karena khawatir. Beberapa upaya
pun dilakukan oleh masyarakan agar terhindar dari kejamnyaa COVID-19 yang
sampai akhir tahun ini menjadi musuh bagi semua orang. Mencuci tangan, memakai
masker, dan menjaga jarak adalah beberapa cara yang bisa dilakukan selama ini
sebelum vaksin yang katanya akan
mulai diluncurkan untuk membuat masyarakat menjadi sedikit tenang.
Apakah
hanya waspada kepada COVID-19 saja? Tentu saja tidak, beberapa penyakit
yang mungkin menjadi terkubur karena ke-popularitasan COVID-19 juga harus masih
kita waspadai keberadaannya. Salah satunya adalah AIDS, yang selama puluhan
tahun menjadi penyakit yang ditakuti oleh seluruh masyarakat dunia karena
sampai sekarang cara untuk menyembuhkannya masih belum diketahui.
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah infeksi yang ada pada
tubuh manusia karena adanya virus HIV (Human
Immunodeficiency Virus) dan virus-virus lainnya terhadap kekebalan tubuh
manusia. Seseorang yang terkena virus tersebut akan rentan terhadap infeksi dan
akan membuat kekebalan tubuh melemah. HIV akan menginfeksi secara perlahan,
merusak sel manusia secara bertahap, dan pada pada akhirnya akan terlihat
akibat dari infeksi tersebut pada kisaran waktu sekitar 6 bulan atau bahkan 10
tahun.
Dilansir dari Tempo oleh Fitra
Moerat Ramadhan, jumlah penderita AIDS di Indonesia sampai bulan April 2020
mencapai 600 ribu jiwa yang tersebar di 463 kabupaten dan kota di seluruh
Indonesia. Penderita AIDS terbanyak berada di provinsi DKI Jakarta, diikuti dengan
Jawa Tengah sebagai peringkat kedua penderita AIDS terbanyak di Indonesia.
Sehubungan dengan total populasi
penderita AIDS di Indonesia, penularan AIDS harus tetap kita waspadai disamping
kekhawatiran kita terhadap penularan COVID-19. Jangan sampai karena pandemi ini
kita menjadi lupa dan tidak tanggap terhadap penularan AIDS yang sebenarnya
hampir serupa dengan COVID-19 atau bahkan bisa dikatakan lebih ganas dan
menyeramkan. Seperti yang kita tahu sejak dulu, penularan AIDS dapat dilakukan
dengan perantara cairan tubuh manusia, seperti darah, air mani, cairan vagina,
dan air susu ibu. Kontaminasi tersebut didapatkan melalui transfusi darah,
hubungan intim, serta hubungan antara ibu dan anak melalui ASI.
Penularan AIDS sering dikaitkan
dengan seks bebas yang menjadi perantara virus HIV yang paling banyak terjadi.
Bahkan di kala pandemi pun, perilaku seks bebas masih marak dilakukan demi
memenuhi hasrat batin di dalam diri manusia. Sayangnya, perilaku seks yang dilakukan
tidak diiringi dengan pemahaman mengenai penularan berbagai penyakit seperti
AIDS yang dapat menyerang siapa saja tanpa pandang korbannya. Penggunaan alat
pengaman seks sering kali dilupakan oleh para pelaku seks bebas, padahal
penggunaan pengaman ketika berhubungan seksual dapat mencegah atau mengurangi
resiko penularan HIV/AIDS sampai 95%.
Selain hubungan seksual, penularan
AIDS juga dapat dilalui dengan jarum suntik yang biasanya didapatkan dari transfusi
darah atau pemakaian obat-obatan. Penggunaan jarum suntik bekas ketika transfusi
minim terjadi, tetapi ketika melakukan aktivitas dengan obat-obatan terlarang
atau narkoba, penggunaan jarum suntik bekas sangat marak dilakukan.
Pandemi membuat hampir semua
masyarakat terpaksa berdiam diri di rumah sampai waktu yang tidak dapat
ditentukan. Tentu saja hal itu membuat masyarakat jenuh karena terbiasa
beraktivitas di luar rumah. Oleh karena itu, beberapa kalangan memilih
menggunakan narkoba seperti seperti heroin, kokain, atau obat penenang dengan
harapan mendapatkan ketenangan dari isolasi yang dilakukan selama beberapa
bulan ini. Kegiatan ‘pesta’ narkoba biasa dilakukan bersama orang terdekat agar
tetap bisa merasakan kebersamaan dan keramaian seperti di luar rumah sebelum pandemi.
Namun, tidak jarang kebersamaan yang mereka lakukan justru menimbulkan beberapa
masalah selain bahaya dari narkoba itu sendiri, yaitu penggunaan jarum suntik
bersama yang terkontaminasi dari tubuh yang satu ke tubuh yang lain. Jarum
suntik yang terkontaminasi bukan saja menyalurkan narkoba seperti heroin atau
kokain, tetapi juga HIV/AIDS yang ikut masuk ke dalam tubuh korban dan akan
menginfeksi sel secara bertahap.
Isolasi mandiri yang terpaksa kita
jalankan selama hampir setahun ini memang sangat meresahkan dan membuat siapa
pun jenuh dan merasa pusing karena tidak dapat beraktivitas dengan maksimal. Namun,
jangan sampai aktivitas-aktivitas lain yang kita lakukan demi menghilangkan rasa
jenuh tersbeut justru mengundang penyakit lain yang lebih mematikan dan menyeramkan
dari COVID-19, yaitu AIDS. Meskipun COVID-19 menjadi bintang yang paling
bersinar tahun ini, kita pun seharusnya tidak melupakan bahwa AIDS pun akan
tetap menjadi karakter yang wajib kita waspadai karena pengobatan bagi AIDS
masih belum ditemukan sampai saat ini setelah puluhan tahun lamanya.
Pencegahan AIDS perlu kita ingat
selama masih bisa hidup di dunia ini, dari sekolah dahulu kita selalu diberikan
upaya-upaya pencegahan HIV/AIDS yang dapat kita lakukan dengan niat dasar dalam
diri sendiri. Salah satu pencegahan yang paling utama adalah dengan tidak
melakukan seks bebas, pastikan selalu menggunakan pengaman ketika hendak
berhubungan intim dengan orang yang tidak kita ketahui asal-usulnya. Selain
itu, tidak menggunakan jarum suntik bersama atau bekas yang biasa dilakukan
ketika menggunakan narkoba. Hubungan antara ibu dan anak juga perlu diperhatikan,
jika seorang ibu diketahui memiliki riwayat AIDS, maka dengan sangat berat hati
tidak melakukan pemberian ASI kepada bayi karena rentan tertular hal yang sama
dengan sang ibu.
AIDS memanglah penyakit yang
menakutkan, tetapi satu hal yang perlu diingat adalah bahwa kita pun tidak
berhak untuk menjauhi dan mendiskriminasi penderita AIDS. Penularan AIDS tidak
semudah yang dibayangkan, berpelukan atau bersalaman tidak serta-merta membuat HIV/AIDS
menular ke tubuh yang bukan penderita. Penderita HIV/AIDS atau ODHA (Orang dengan
HIV/AIDS) harus kita dukung agar kekebalan tubunya tidak membuat mereka kalah.
Penderita AIDS maupun bukan menduduki tingkat yang sama, yaitu sama-sama
waspada terhadap AIDS dan beriringan bersama melawan HIV/AIDS yang masih ada di
sekitar kita sampai saat ini.
Sumber Referensi:
Herbawani, Chahya K. & Dadan
Erwandi. 2019. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Pencegahan Penularan
Human Immunodeficiency Virus (HIV)
oleh Ibu Rumah Tangga di Nganjuk Jawa Timur. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 10(2), 89-99.
Prayuda, Muhammad R. 2015. Pencegahan
dan Tatalaksana HIV/AIDS. Jurnal Agromed
Unila, 2(3), 232-236.
Ramadhan, Fitra Moerat. 2020. “Jumlah
Orang dengan HIV AIDS Diperkirakan Lebih dari 600 ribu” dikutip dari https://grafis.tempo.co/read/2052/jumlah-orang-dengan-hiv-aids-diperkirakan-lebih-dari-600-ribu
(diakses 21 Desember 2020).
Sunday, 6 December 2020
Merangkul Korban Kekerasan Berbasis Gender
Kekerasan
Berbasis Gender atau sering disingkat sebagai KBG adalah tindakan kekerasan
yang ditujukan terhadap perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal
seksual, fisik, sosial-ekonomi, dan psikologis. KBG dapat terjadi secara
langsung atau bahkan sering terjadi secara online
melalui media sosial dengan menulsikan kata-kata yang kasar dan menjatuhkan
korban.
Kasus mengenai KBG selalu menunjukkan grafik kasus yang
terus meningkat, hal ini disebabkan karena lemahnya hukum mengenai tuntutan
yang seharusnya ditujukan kepada para pelaku KBG, selain itu beberapa lingkup
masyarakat juga masih menormalisasi dan menganggap bahwa KBG adalah hal yang sepele
dan tidak akan menimbulkan akibat kepada korban. Faktanya, korban KBG akan
terus mengalami trauma dan ketakutan dalam dirinya selama hidupnya. Korban akan
terus merasa sendiri dan tidak berharga setelah mengalami KBG, hal tersebut
tentunya bukan lagi masalah yang sepele dan terpinggirkan.
Menyangkut soal KBG, kiranya hanya bisa dilakukan dengan
kampanye yang luas kepada khalayak mengenai KBG, membuat konten-konten tentang
dampak KBG, dan mengajak masyarakat beserta aparat tinggi mulai saatnya
mengusut kasus KBG secara bijak agar pelaku tidak seenaknya pergi dan merasa tidak
ada beban yang ditanggungnya. Jika hukum mengenai KBG tidak tegas, maka akan ada
ribuan kasus KBG lain yang akan terjadi. Artinya, akan semakin banyak korban
yang akan terperangkap dalam kenangan buruk yang berdampak pada psikisnya.
Jika
hukum Negara tidak bisa menjamin dan mengadili kasus KBG dengan sepatutnya,
maka masyarakat yang harus mulai bergerak dan merangkul satu per satu korban
KBG. Kegiatan kecil itu mungkin tidak bisa menghapus luka batin pada korban
secara seutuhnya, tetapi diharapkan untuk korban sendiri akan merasa aman dan
memiliki banyak teman yang merangkulnya berjalan kembali dengan tegak. Sudah
selayakanya kita membuka mata tentang KBG yang semakin marak terjadi, membuka
telinga dan mulai mendengarkan korban tanpa menghakimi, dan menjadi teman dekat
yang saling menguatkan secara batin.
Dimulai
dari hal kecil, jika melihat KBG secara langsung, maka segera bantu untuk
melerai, pisahkan korban dari pelaku dan mulai mengamankan korban. Jika takut
memperkeruh suasana, maka bisa melaporkan kepada lembaga hukum yang dapat
mengatasi masalah seperti ini. Jika kalian adalah korban KBG, maka segera
mencari tempat yang aman, menjadi berani, dan berceritalah kepada orang yang
terpercaya. Ingat, kalian tidak sendiri, kami akan siap untuk merangkul dan
jalan beriringan bersama melawan kekerasan.
Perlu perlawanan tidak langsung juga untuk mulai membuka mata masyarakat luas tentang KBG, menyebarkan tulisan atau foto yang membuat masyarakat sadar bahwa KBG sudah seharusnya menghilang dan mulai hidup berdamai tanpa adanya perbedaan yang didasari oleh gender. Dukungan yang kuat juga akan ditujukan kepada para korban dengan memberikan semangat dan menyadarkan bahwa masih ada yang peduli dengan keadaan mereka, bahwa mereka tidak sendiri, ada ratusan jiwa lainnya yang akan menjadi pagar pembelaan bagi mereka.
#CerdasBerkarakter #BlogBerkarakter #AksiNyataKita #LawanKekerasanBerbasisGender #BantuKorbanKekerasan
Friday, 11 September 2020
[Review Buku] Drupadi: perempuan poliandris
(sumber: goodreads.com)
Judul: Drupadi: perempuan poliandris
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Tahun: 2017
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-06-0456-5
Sinopsis:
"Apalah artinya Pandawa tanpa Drupadi."
Dewi Drupadi tidak menyukai suratan. Kehidupan manusia tidak ada artinya tanpa perjuangan. Jika segalanya telah menjadi suratan, apakah yang masih menarik dalam hidup yang berkepanjangan? Apakah usaha manusia tidak ada artinya? Apakah semuanya memang sudah ditentukan oleh dewa-dewa? Seperti ia yang menjadi istri dari lima ksatria Pandawa.
"Maka hidup di dunia bukan hanya soal kita menjadi baik atau menjadi buruk, tapi soal bagaimana kita bersikap kepada kebaikan dan keburukan itu."
Ulasan Pribadi:
Berawal dari sebuah platform yang saling berbagi buku-buku bacaan, saya tertarik pada salah satu novel karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Drupadi. Bukan tanpa alasan saya langsung jatuh hati pada novel ini, saya memilihnya menjadi sasaran bacaan saya karena saya sangat tertarik pada cerita pewayangan, baik dalam versi India atau Jawa. Salah satu tokoh yang saya kagumi dalam cerita pewayangan tentu saja pada Drupadi, sosok wanita yang ayu dan tegar yang menikahi kelima Pandawa yang dikenal selalu menjadi tokoh utama karena sifat heroik mereka.
Novel Drupadi sangat menekankan alur dan fokusnya kepada Sang Dewi yang lahir dari sekuntum bunga teratai yang merekah. Kecantikan yang tersohor di segala penjuru membuat Drupadi dikagumi dan membuat kaum siapa saja ingin meminangnya. Bermula dari sayembara yang dia buat sampai pada akhirnya pilihan Sang Dewi jatuh kepada salah satu ksatria Pandawa, Arjuna yang keahlian memanahnya tiada tanding. Drupadi mencintai Arjuna, begitu pula sebaliknya.
Konflik novel ini tidak hanya sebatas cinta antara Drupadi dan Arjuna, melainkan sebuah keputusan yang khusyu' di antara kelima Pandawa yang harus menikahi Drupadi. Keputusan ini pun didasari oleh ibunda Pandawa, Dewi Kunti, serta rasa ikatan saudara di antara kelima Pandawa. Drupadi yang anggun hanya pasrah dan mengikuti apa saja yang diminta, termasuk menikahi seluruh anggota Pandawa. Drupadi menjadi poliandris, menikahi Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.
Berbeda debgan novel pewayangan Mahabarata lain, keunikan dari Drupadi ialah menceritakan beberapa sifat buruk dan kesembronohan dari Pandawa. Sedangkan Drupadi menjadi sosok utama yang tangguh dan seakan menanggung tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan oleh kelima suaminya. Salah satu yang diceritakan adalah ketika Drupadi diseret oleh Dursasana, tubuhnya yang cantik harus dilakukan semana-mena oleh Dursasana dnegan tawaan dari para Kurawa, sanggulnya terlepas, pakaiannya terlucuti, wanita itu menjadi bahan tertawaan. Sedangkan kelima suaminya hanya bisa diam tidak bisa melakukan apa-apa kepada istri tercinta, bahkan Yudhistira yang kebijaksanaannya sangat terkenal, Bima yang kekuatannya tidak main-main, kehebatan Arjuna yang tidak bisa di-nomor duakan, Nakula-Sadewa sang bungsu yang hanya mampu menatap. Drupadi menanggung kesalahan suaminya seorang diri.
Novel ini benar-benar menambah wawasan saya tentang bagimana sikap dan ketangguhan Drupadi yang bahkan menurut saya melebihi Pandawa. Dia mampu berdiri sendiri, bahkan tanpa keberadaan Drupadi, Pandawa tidak bisa apa-apa. Drupadi merupakan seorang Dewi yang benar-benar agung dengan segala kecantikan dan kewibawaan yang sudah ada di dalam dirinya. Penulis benar-benar membuat kisah pewayangan Mahabarata yang berbeda, diambil dari sosok wanita bernama Drupadi. Keistimewaan yang benar-benar khas dari novel ini adalah pengambilan kisah bagaimana Drupadi adalah seorang wanita yang benar-benar berjuang bersama kelima suaminya, bahkan ketika pengasingan bagi mereka, termasuk di dalamnya adalah Dewi Kunti.
Bagi saya, novel Drupadi akan selalu membekas di kepala saya tentang bagaimana penulis menceritakan sosok wanita yang tidak dilahirkan itu. Tentang bagaimana kewibawaan dan kecerdasan dari Drupadi yang seakan membuat para pembaca menjadi kagum dan ingin menjadi sosoknya, semua ingin menyerupai Drupadi. Novel ini hampir tidak ada kecacatan di mata saya, sedikit kekurangannya adalah kisah yang kurang diceritakan dengan lengkap, sebenarnya itu bukanlah masalah besar karena sebenarnya kita masih bisa membaca kisah Mahabarata di buku yang lain seperti karya P. Lal.
Rate dari saya pribadi adalah 9/10.
Sunday, 2 February 2020
[Review Buku] Laut Bercerita
Judul: Laut Bercerita
Penulis: Leila S. Chudori
Tahun: 2017
ISBN: 978-602-424-694-5
Penerbit: Gramedia
Sinopsis:
Jakarta, Maret 1998
Di sebuah senja, di sebuah rumah susun di Jakarta, mahasiswa bernama Biru Laut disergap empat lelaki tak dikenal. Bersama kawan-kawannya, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dia dibawa ke sebuah tempat yang tak dikenal. Berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung, dan disetrum agar bersedia menjawab satu pertanyaan penting: siapakah yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu.
Jakarta, Juni 1998
Keluarga Arya Wibisono, seperti biasa, pada hari Minggu sore memasak bersama, menyediakan makanan kesukaan Biru Laut. Sang ayah akan meletakkan satu piring untuk dirinya, satu piring untuk sang ibu, satu piring untuk Biru Laut, dan satu piring untuk si bungsu Asmara Jati. Mereka duduk menanti dan menanti. Tapi Biru Laut tak kunjung muncul.
Jakarta, 2000
Asmara Jati, adik Biru Laut, beserta Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana mencoba mencari jejak mereka yang hilang serta merekam dan mempelajari testimoni mereka yang kembali. Anjani, kekasih Laut, para orangtua dan istri aktivis yang hilang menuntut kejelasan tentang anggota keluarga mereka. Sementara Biru Laut, dari dasar laut yang sunyi bercerita kepada kita, kepada dunia tentang apa yang terjadi pada dirinya dan kawan-kawannya.
Laut Bercerita, novel terbaru Leila S. Chudori, bertutur tentang kisah keluarga yang kehilangan, sekumpulan sahabat yang merasakan kekosongan di dada, sekelompok orang yang gemar menyiksa dan lancar berkhianat, sejumlah keluarga yang mencari kejelasan akan anaknya, dan tentang cinta yang tak akan luntur.
(Sumber: Goodreads)
Ulasan Pribadi:
Buku ini bercerita banyak kepada saya, memberi kesan yang campur-aduk. Terkadang saya tersenyum, tertawa, menangis, atau bergidik ngeri. Setiap detail yang diceritakan oleh penulis sungguh membuat imajinasi kita tumbuh, seakan berada pada situasi yang ada pada buku.
Saya tersenyum ketika membaca tentang kisah cinta Laut dan Anjani, membuat manis kisah dalam buku ini yang didominasi oleh kengerian dan kemarahan. Anjani adalah tokoh yang mampu menahan emosi pembaca karena kehadirannya, tokoh utama, Laut mendapat keberadaan tentang cinta.
Pembaca juga bisa tertawa geli ketika Laut, Alex, Sunu, dan Danil berada dalam satu percakapan. Empat sekawan yang kompak dan konyol mencairkan suasana tegang dalam beberapa adegan.
Siapa yang belum membaca novel ini? Terutama bagi yang memiliki kesensitifan terhadap apapun (gampang menangis). Novel ini siap membuatmu menangis, apalagi ketika di akhir cerita, saya jamin pembaca akan menangis atau setidaknya sesak karena hal yang diceritakan oleh penulis. Kesedihan ini datang ketika membaca kisah orang tua Laut, baik dari sudut pandang Laut atau Asmara.*
(*Novel ini memiliki 2 sudut pandang, dari tokoh utama Laut, dan Asmara Jati, adik Laut)
Kengerian yang mampu membuat pembaca bergidik selalu ada dalam tiap lembarnya. Membuat pembaca merasakan kesakitan yang dialami Laut dan kawan-kawan, atau bahkan kengerian yang dialami oleh Asmara karena kehilangan seorang kakak.
Intinya, novel ini mampu membuat saya takjub akan detail yang diceritakan. Banyak kosa kata baru yang menambah kamus pribadi saya. Saya juga belajar sejarah dari novel ini, betapa ngerinya zaman ketika saya belum dilahirkan. Keadaan panas dan kalut menambah merinding suasana.
Di hari libur, sempatkan baca ini yuk! Dijamin betah bacanya! Bagi kalian yang belum dapat buku fisiknya, bisa baca di iPusnas loh! Yuk! Yuk!
Rating: 8/10 (Rating Pribadi)





